Senin, 02 Mei 2011

Sejarah Ki Ageng Wonolelo


Ki Ageng Wonolelo adalah keturunan Prabu Brawijaya ke V Raja terakhir Majapahit. Prabu Brawijaya V mempunyai anak 111 orang yaitu 60 laki-laki dan 51 orang perempuan. Pada waktu kerajaan Majapahit kekuasaannya pindah ke Demak, semua putra-putri sang Prabu Brawijaya diperintahkan untuk meninggalkan kerajaan supaya melakuan lelono dan topobroto (melakukan perjalanan jauh sambil prihatin, bertapa atau semedi). Salah satu putra Prabu Brawijaya yang bernama pangeran Blancak Ngilo diperintahkan lelono ke arah barat yaitu ke hutan Mentaok dan disana menyamar dengan berganti nama dengan Syekh Dumadil Qubro yang ditemani oleh Kyai Hajar dan Syeh Maulana Magribi.[1]

Dalam perjalanannya pangeran Blancak Ngilo berhenti di Karang Ngelo (daerah Kota Gede) dan bermukim disitu. Sejak itu Pangeran Blancak Ngilo disebut dengan Ki Ageng Karang Ngelo.[2] 
Pada saat itu gunung merapi selalu mengeluarkan lahar, supaya lahar tersebut tidak mengalir ke selatan yang akan merusak pedesaan dan kota, maka pangeran Blancak Ngilo, atau Ki Ageng Karang Ngelo pindah di lereng Merapi di pinggir Turgo kemudian tempat tersebut diberi nama padukuhan Turgo, disitu Ki Ageng Karang Ngelo berganti nama Ki Ageng Turgo.
Pangeran Blancak Ngilo, Ki Ageng Karang Ngelo atau Ki Ageng Turgo mempunyai dua orang putra yaitu Syeh Kaki dan Syeh Jimat. Syeh Kaki mempunyai tiga orang anak yaitu Syeh Jumadigeno, Syeh Wasibageno, dan Panembahan Bodo. Syeh Jimat mempunyai dua orang putra yaitu Ki Berbak dan Ki Guntur Geni.[3]
Syeh Jumadigeno putra dari Syeh Kaki itulah yang kemudian bermukim dan menetap di dusun Pondok Wonolelo, dan sampai sekarang dijuluki atau terkenal dengan nama Ki Ageng Wonolelo.[4]
Ki Ageng Wonolelo merupakan tokoh penyebar agama Islam di daerah Pondok Wonolelo, dan Beliau seorang yang mempunyai ilmu kebatinan tinggi pada masanya. Karena ilmunya itu maka, Raja Mataram pernah Mengutusnya pergi ke Kerajaan Sri Wijaya di palembang yang pada masa itu mbalelo atau membangkang terhadap Mataram dan berhasil menahlukkan dengan baik.[5] 
  1. Asal-Usul Dusun Pondok Wonolelo
Menurut cerita orang adanya atau asalmulanya sebuah dusun itu karena dahulu ditempat itu ada tanaman, binatang, atau simbol lainnya yang kemudian oleh orang pertama yang ada di tempat itu simbol-simbol tadi dijadikan nama dusun. Untuk mengetahui asal-usul dusun Pondok Wonolelo dan nama-nama dusun disekitarnya melalui wawancara dan cerita orang maka penulis mendapatkan informasi tentang asal mula adanya dusun Pondok Wonolelo.
Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno diperintahkan oleh Ayahnya yaitu Syeh Khaki  untuk berguru kepada Eyangnya Pangeran Blancak Ngilo (Kyai Ageng Turgo) di Gunung Turgo. Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno berangkat ke arah utara sesuai dengan petunjuk Syekh Meloyo agar berjalan menelusuri sungai. Perjalanan mereka berdua tidaklah semudah sekarang.
 Dahulu belum ada jalan kecuali sungai yang hulunya ada di gunung merapi, naik bukit menyusuri tebing yang curam, batu terjal dan besarpun harus dilalui dengan tidak menghiraukan bahaya yang selalu mengintai. Baik dari binatang buas, maupun para penyamun, ataupun arus sungai serta kerasnya alam.[6] 
Pada suatu saat Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno dihentikan oleh para penyamun karena mereka sangat sakti maka penyamun itu akhirnya menjadi pengikutnya. Perjalanann mereka berhenti dan istirahat di bawah pohon beringin karena sudah penat perjalanannya. Dalam istirahatnya itu Syekh Jumadigeno melihat kearah selatan dan mendengar suara gejrat-gejrit terus menerus. Setelah dilihat ternyata suara batu yang terdorong air terjun, kemudian tempat itu dinamai hutan Garjitowati.[7]
Pandangan Syekh Jumadigeno terus keselatan dan terlihat kolam luas dan sangat jernih, sehingga tempat itu dinamakan Pachitokan yang kemudian hari (sekarang) dibangun Kraton Yogyakarta.
Perjalanan terus dilanjutkan ke utara menyusuri sungai yang berkelak kelok sampai beberapa  hari kemudian melihat bulus (kura-kura) yang berkeliaran (saba) di hutan (wana) maka Jumadigeno berkata besok dikemudian hari tempat ini dinamakan Wanasaba dan Mbulus. Berjalan keutara melihat bulus kecil kemudian tempat itu diberi nama Ketulan. Perjalanan diteruskan keutara dengan menelusuri sungai dan tebing disitu ada angin dalam bahasa Jawa disebut barat kencang, maka tempat itu diberi nama Baratan. Kemudian mereka istirahat berteduh dibawah pohon pakis yang besar melihat kearah puncak gunung merapi mendung dan kemudian tempat itu diberi nama Kemendung. Perjalanan sampai tidak melihat tegalan dan pemukiman penduduk, yang terlihat hanyalah lereng dan hutan yang terjal maka dikemudian hari dinamai Kemput (sudah sampai batas terakhir).[8] Syekh Jumadigeni dan Syekh Wasibageno setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka bertemu dengan Eyangnya. Di Gunung Turgo mereka diberi ilmu kanuragan, ilmu agama, dan nasehat-nasehat suci. Mereka disuruh untuk mengembara  kehutan malelo untuk membabad hutan serta mengamalkan ilmu-ilmunya, dan tinggal ditempat pamannya Syekh Jimat. Syekh Jumadigeno dibekali dengan  Bandil, Rasukan Ontrokusumo (gondil), Kopyah, dan Kitab Suci Al-Qur’an.Syekh Wasibageno dibekali dengan Gribig. [9]
Di hutan yang bernama Wonogiri mereka bertemu dengan orang yang sedang menyambung ayam yaitu Surenggodo dan Surenggono, kedua orang itu di peringatkan oleh Syekh Jumadigeno agar tidak menyambung ayam karena menurut ajaran suci itu tidak diperbolehkan. Kedua penyambung ayam itu tidak mau akhirnya mereka berkelahi dan akhirnya mereka menjadi pengikut Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno, dan tempat itu diberi nama Sawung sari.
Syekh Wasibageno duduk diatas Gribig dan memejamkan matanya ternyata gribig itu melayang-layang ke udara dan membawa Wasibageno ke arah timur turun di tengah hutan Duarawati, kemudian duduk semedi mengheningkan cipta. Setelah membuka mata ternyata berada di bawah pohon jati yang masih muda dalam bahasa jawa anom, dan tempat itu diberi nama Jatianom. Syekh Wasibageno diberi sebutan Kiai Ageng Gribig oleh para pengikutnya karena selalu di atas gribig.
Syekh Jumadigeno bersama pengikutnya sampe di suatu tempat di beri nama Pakem. Di tempat ini Syekh Jumadigeno beristirahat dan melihat kearah tenggara ada sebuah hutan yang malelo (jelas). Kedua pengikutnya terlempar kearah tenggara. Syekh Jumadigeno terkejut melihat kejadian itu, beliau terus melompat untuk mengikuti kedua muridnya itu.[10]
Terlemparnya Surenggodo dan Surenggono akhirnya jatuh di bawah pohon asem yang sangat besar di hutan Malelo. Karena merasa lelah dan lapar maka mereka beristirahat sambil memakan (diemplak-emplok) buah asem itu, maka di kemudian hari tempat itu diberi nama Ngemplak. Syekh Jumadigeno sampe ke tempat murid-muridnya berada dan melihat mereka haus dan kelaparan, maka dengan ilmu jaya kawijawan dipetiknya lidi pucang (pinang) dilemparkan kedalam jurang, seketika itu juga muncul mata air yang jernih. Mereka melanjutkan perjalanan keselatan dan bercocok tanam disuatu tempat karena tidak betah tinggal disitu maka ditempat ini dikemudian hari bernama dusun Ngalian. Mereka pindah tempat kearah timur, disini Surenggodo disuruh membuat wadung (kapak besar), maka tempat ini diberi nama dusun Kwadungan.
Sebelum sholat subuh mereka melanjutkan perjalanan keutara melewati sungai yang diberi nama sungai Tepus. Di hutan Malelo Syekh Jumadigeno bersemedi dalam semedinya mendapat wangsit agar membabat hutan itu dengan menggunakan Bandil pemberian Gurunya. Setelah sholat Subuh Syekh Jumadigeno memutar-mutar Bandil diatas kepalanya sambil membaca doa serta mantra pemberian Eyangnya. Semua kehendak Tuhan pasti terjadi, pohon-pohon pada tumbang hanya pohon kedaung yang masih tegak berdiri dengan bunga-bunga yang indah dan asri.[11] Tempat ini akhirnya diberi nama dusun Wonolelo. Di sini Syekh Jumadigeno mendirikan rumah Trajumas, rumah ini lain dari pada yang lain, karena sokoguru tidak ada yang dipasah atau dipahat cuman dipeceli menggunakan kapak, andernya cuman satu, penyangganya enam, dan berbentuk limas.[12] Rumah ini dipercayai sebagai rumah tiban, karena sepengetahuan penduduk rumah itu tiba-tiba ada tanpa ada yang tahu siapa dan kapan membuatnya.[13]
Disamping mendirikan rumah, Syekh Jumadigeno mendirikan Masjid untuk sholat berjamaah dengan para pengikutnya atau santrinya. Semakin banyak orang-orang yang berguru ngaji kepada beliau, bahkan dari tempat-tempat yang jauh, sehingga mereka harus mondok di tempat itu, karena banyak yang mondok, maka Syekh Jumadigeno mendirikan Pondok Pesantren. Di tempat itu dulunya hutan Malelo dalam bahasa Jawa disebut Wono, maka Syekh Jumadigeno memberi nama Pondok Wono Malelo, yang lama kelamaan menjadi Pondok Wonolelo. Syekh Jumadigeno oleh murid-muridnya dipanggil Ki Ageng yaitu orang yang dianggap besar jasanya dan memimpin serta membimbing masyarakat, karena beliau memimpin serta menjadi guru ngaji atau Kyai di Pondok Wonolelo, akhirnya beliau mendapat sebutan serta gelar Ki Ageng Wonolelo[14]. Karena jasa-jasanya maka, Ki Ageng Wonolelo dipercayai oleh warga setempat sebagai Cikal Bakal adanya dusun Pondok Wonolelo.          
  1. Asal-Usul Upacara Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo
 Upacara tradisional sangat erat kaitannya dengan kebudayaan suatu daerah atau suatu suku bangsa.[15] Menurut Mulyadi dkk, upacara merupakan perangkat lambang upacara yang tidak sekedar berfungsi sebagai reservasi akan tetapi sebagai stimuli of emotion. Selain itu upacara tradisional juga merupakan sumber informasi kebudayaan yang tidak tertulis tetapi mempunyai arti yang sangat penting baik bagi anggota masyarakat pendukungnya terutama yang muda maupun bagi orang lain yang berminat memahaminya. Dalam hal ini upacara tradisional menjadi jembatan penghubung antara tradisi budaya masyarakat terdahulu dengan masyarakat sekarang dan akan datang, karena upacara tradisional diwariskan kepada anak cucu meskipun selalu ada perubahan dan penyesuaian sejalan dengan perjalanan waktu[16].
Pelaksanaan upacara saparan tidak dapat lepas dari riwayat atau asal usul dusun Pondok Wonolelo tempat pelaksanaan upacara tersebut. Riwayat tersebut diyakini kebenaran dan keberadaannya oleh masyarakat setempat. Menurut William R. Bascom yang telah dikutip oleh James Danandjaja cerita semacam itu diklasifikasikan sebagai legenda, yaitu cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar pernah terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Ditokohi oleh manusia yang kadang-kadang mempunyai sifat luar biasa atau sakti dan kadang-kadang dibantu oleh makhluk halus, terjadi di dunia, dan waktunya belum terlalu lampau.[17]
Dinamakan Upacara Tradisi Saparan Wonolelo karena upacara ini diambil dari nama tokoh leluhur dusun Pondok Wonolelo yaitu Ki Ageng Wonolelo yang oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai cikal bakal pembuka Pondok Wonolelo dan yang telah menurunkan penduduk asli Pondok Wonolelo. Acara ini diadakan pada bulan Safar karena meninggalnya Ki Ageng Wonolelo adalah pada bulan Safar, malam jum’at legi dan pada masa sekarang ini tradisi saparan dijadwalkan oleh dinas pariwisata pada bulan Safar jum’at pertama.[18]   
Awal mula pelaksanaan upacara tradisi saparan ini dimulai pada tahun 1968 setelah anak keturunan Ki Ageng Wonolelo membentuk trah Wonolelo. Mbah Guno keturunan ke-7 dari Ki Ageng Wonolelo adalah yang membentuk trah Wonolelo agar anak keturunan Ki Ageng Wonolelo dapat berkumpul.[19] Dasar adanya upacara saparan Wonolelo ini yaitu ilham yang dahulu pernah diterima oleh Bapak Purwowidodo (mantan lurah Widodomartani) ketika sedang bersemedi.[20]    
Diadakan upacara ini karena untuk mengenang atau mengingat kembali leluhur yang telah menjadikan dusun Pondok Wonolelo. Selain itu juga untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam yang berhasil khususnya di Pondok Wonolelo dan sekitarnya. Acara ini juga untuk memohon perlindungan dan barokah, agar masyarakat Wonolelo terhindar dari segala macam gangguan gaib yang sekiranya dapat mendatangkan mala petaka.[21]
Dahulu waktu pertama kali diadakan saparan Wonolelo dalam pengaraan pusaka, pusaka-pusaka itu dikirab hanya dengan dibopong ditutupi dengan kain putih. Dalam perkembangannya pusaka-pusaka itu dikirab dengan menggunakan joli-joli. Awal mula kirab pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo dikirab dari rumah Bapak Purwowidodo menuju makam Ki Ageng Wonolelo. Beberapa tahun kemudihan kirab dimulai dari bekas kantor kecamatan Ngemplak di Dusun Jangkang  menuju masjid, baru dari masjid diadakan upacara dilanjutkan kirab menuju makam Ki Ageng Wonolelo. Pada tahun 2002 sampe sekarang kirab pusaka dimulai dari masjid petilasan Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki Ageng Wonolelo.[22]
Awal mula perayaan saparan Wonolelo tidak diakhiri dengan pembagian atau perebutan kue apem tapi dengan pembagian Sego Gurih (nasi uduk) yang ditempatkan dalam cekethong (wadah yang dibuat dari daun pisang). Karena sego gurih dirasa banyak terbuang percuma, karena tumpah saat diperebutkan sehingga dianggap mubadzir, maka diganti dengan kue apem. Pergantian sego gurih menjadi kue apem dilakukan oleh trah setelah melalui beberapa kali pertemuan untuk mencari jenis makanan yang tepat. Alternatif yang disepakati adalah kue apem dengan makna bahwa nama apem dihubungkan dengan bahasa Arab Afu’un yang artinya ampunan. Selain itu karena bentuknya bulat menyerupai payung, maka apem juga dianggap sebagai lambang payung yang artinya pengayoman atau perlindungan. Oleh karena itu lambang apem atau simbol dari permohonan ampun dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa[23].     

B. Gambaran Upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo              
Pada hakekatnya upacara saparan ini merupakan upacara trah atau keluarga yang bersifat religius magis. Trah yang dimaksud adalah seluruh keturunan dari tokoh leluhur yang menjadi pusat perhatian dalam upacara tersebut. Akan tetapi pelaksanaan upacara ini adalah seluruh warga Pondok Wonolelo, karena upacara ini dilakukan untuk menghormati jasa-jasa leluhur mereka yaitu Ki Ageng Wonolelo yang merupakan cikal bakal adanya dusun Pondok Wonolelo dan agar dusun Pondok Wonolelo terhindar dari mara bahaya. Pada intinya pelaksanaan upacara ini adalah kirab pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo dan gunungan apem yang diakhiri dengan perebutan apem oleh para peziarah dan pengunjung upacara tersebut.
Pada tahun 2008 ini upacara saparan Ki Ageng Wonolelo jatuh pada tanggal 14 februari 2008, dan acara pasar malem dibuka pada tanggal 1 februari 2008. Pada tanggal 1 februari 2008 dibuka dengan pengajian akbar yang dimulai pukul 20.00 wib sampai selesai. Pada hari-hari setelah pembukaan diadakan pasar malem dengan hiburan-hiburan seperti jathilan, dangdut, wayang, kethoprak, band, campursari, srandul, reyog, elekton, mocopat, dan aneka tari. Acara pasar malem ini ditutup pada 16 februari 2008.
Pada tahun 2008 ini pelaksanaan upacara saparan diketuai oleh Bapak kepala desa Widodomartani yaitu Bapak Tony Suryanto P. dengan wakil ketua 1 Bapak Gunoyo, sekretaris Bapak Sumardi. Dilindungi oleh Muspika Kecamatan Ngemplak, dan dewan pembina atau penasehat oleh Bapak H. Efendi Alibasah, Bapak Drs. H. Djajeng Sugito, B.Sc, Bapak R. Sugiyanto, Bapak Purwanto JR, dan Bapak H. Sukirno[24].   
  1. Persiapan Upacara Saparan
Penyelenggaraan Upacara Tradisi Saparan Wonolelo melibatkan berbagai pihak terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam perkumpulan trah Ki Ageng Wonolelo. Mereka inilah yang terlibat langsung dalam  penyelenggaraan upacara saparan, sebab mereka inilah yang mempunyai kepentingan langsung atas terselenggaranya upacara saparan. Disamping anggota trah masyarakat sekitar tempat saparan berlangsung juga ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan saparan Wonolelo. Pemerintah daerah setempat juga ikut mendukung atas terselenggaranya upacara saparan Wonolelo.
Untuk memperlancar penyelenggaraan upacara saparan Wonolelo ini terlibat pula pihak-pihak pemerintah daerah setempat khususnya pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Namun yang paling utama adalah keluarga trah Ki Ageng Wonolelo. Keterlibatan pemerintah daerah setempat itu wajar, mengingat bagaimanapun penyelenggaraan upacara adat saparan Wonolelo ini merupakan upacara tradisional yang memberikan ciri-ciri adat istiadat budaya masyarakat setempat melibatkan diri dalam penyelenggaraan upacara saparan Wonolelo.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan agar upacara saparan dapat berjalan dengan lancar adalah diadakan musyawarah trah Ki Ageng Wonolelo dengan berkoordinasi dengan pemerintah Widodomartani dan pihak Dinas Pariwisata untuk membahas segala sesuatu yang perlu dipersiapkan agar pelaksanaan upacara adat saparan Wonolelo dapat berjalan dengan baik. Maka untuk mengurus segala kepentingan penyelenggaraan upacara saparan Wonolelo ini dibentuk suatu panitia, yang dikenal dengan nama Panitia Saparan Ki Ageng Wonolelo. Panitia inilah yang nantinya akan bertanggung jawab atas terselenggaranya upacara adat saparan Wonolelo, sejak dari persiapan upacara saparan sampai berakhirnya upacara saparan Wonolelo.
Perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah pengumpulan benda-benda pusaka Ki Ageng Wonolelo, karena pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo tersimpan secara terpisah oleh anak cucu keturunan Ki Ageng Wonolelo, yang dianggap mampu dan kuat menyimpan pusaka tersebut.
Perlengkapan lain perlu dipersiapkan adalah joli-joli sebanyak pusaka yang akan diarak. Joli adalah sebuah bangunan kecil berbentuk seperti rumah joglo digunakan sebagai tempat pusaka yang akan diarak. Di samping joli juga dipersiapkan tombak sebanyak prajurit yang mendampingi dan mengiringi joli yang berisi pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo. Selain itu juga dipersiapkan sesaji-sesaji. 
Kelengkapan yang harus ada adalah kue apem, apem ini merupakan sajian penting yang harus ada. Apem tersebut dibungkus plastik satu persatu agar saat disebar nanti bila jatuh ketanah tidak kotor. Apem ini dibuat gunungan sehingga oleh masyarakat setempat disebut dengan gunungan apem, pada tahun 2008 ini dibuat apem sebanyak satu ton. Apem-apem tersebut dibuat oleh anak keturunan Ki Ageng Wonolelo dan masyarakat Pondok Wonolelo secara bergotong royong.
Jauh-jauh hari sebelum saparan dimulai diadakan kerja bakti membersihkan tempat-tempat yang akan digunakan uapacara, seperti Makam dan Masjid Ki Ageng Wonolelo. Selain itu juga membersihkan lapangan dan pekarangan-pekarangan sebagai tempat pasar malem, membuat pagar-pagar tempat parkiran, dan memasang pamflet-pamflet untuk membuat pengumuman akan  dimulainya acara saparan beserta untuk tempat jadwal hiburan pasar malem.
  1. Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo
Acara ini adalah sebagai puncak acara semua kegiatan yang di dalamnya ditampilkan upacara religius yang berupa ritual, semua pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo dikeluarkan untuk dikirabkan. Kirab pusaka dimulai dari halaman Masjid peninggalan Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki Ageng Wonolelo dengan diikuti oleh sesepuh Trah, Putro Wayah, Para Santri dan alim Ulama, Prajurit, Dinas Pariwisata, Muspika Kecamatan Ngemplak dan Group-Group kesenian. Kirab pusaka dilaksanakan pada hari Kamis pon malam Jum’at Wage, tanggal 14 Februari 2008, pukul 20.00wib sampai selesai.
Untuk menunggu persiapan acara kirab dikumandangkan gending karawitan yang diikuti oleh semua komponen pendukung acara. Sehabis sholat isyak group karawitan sudah mulai berbunyi untuk mengiringi tamu undangan yang datang, setelah karawitan berhenti dilanjutkan dengan Drum Band SD Karangan dan Drum Band SMP N 1 Ngemplak.
Keluarnya peserta barisan Kirab Pusaka dari daerah persiapan menuju tempat upacara yaitu di halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo. Dari arah utara Masjid keluar barisan pembawa umbul-umbul, Dewan Pinisepuh Trah Ki Ageng Wonolelo, pembawa besek dan kemenyan, pembawa ting, Pengageng di iringi pendamping dua orang, pemikul joli-joli Pusaka, gunungan Apem, dan sesaji, para Ulama yang langsung menempatkan diri di halaman Masjid, dan para group Sholawat.
Dari arah selatan keluar Putri Bayang Kari, Putri domas, diikuti Drum band prajurit, dan Pawang Jathilan. Pawang jathilan ini keluar terlebih dulu dan menempatkan diri disebelah utara panggung karawitan sebanyak 25 orang dan disebelah selatan panggung karawitan sebanyak 25 orang yang membuat pagar betis penonton. Setelah barisan kirab sudah siap ditempatnya masing-masing dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Gambyong, baru kemudian acara inti dimulai.
Acara kirab di buka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al- Qur’an oleh petugas yang telah ditunjuk oleh panitia saparan Wonolelo. Acara selanjutnya yaitu sambutan Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, sambutan dari pemerintah daerah setempat yaitu Kepala Desa Widodomartani, Camat Ngemplak, dan sambutan dari Bupati Sleman yang diwakili Oleh Wakil Bupati Sleman.
Acara  sambutan-sambutan selesai dilanjutkan dengan pembacaan sejarah singkat Ki Ageng Wonolelo.  Pembacaan sejarah selesai dilanjutkan dengan pertunjukan fragmen yang menceritakan tentang riwayat Ki Ageng Wonolelo saat diberi pusaka oleh Gurunya saat bersama adiknya Ki Ageng Gribig, dan cerita saat Ki ageng Wonolelo sdang membabad Hutan Malelo yang sekarang telah menjadi sebuah dusun.
Acara fragmen selesai dilanjutkan dengan laporan pengageng kirab kepada Dewan Pinisepuh Trah bahwa kirab pusaka telah siap diberangkatkan. Adapun dialog laporan itu kurang lebihnya sebagai berikut:
Pengageng trah:               
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Wonten ing ngarsanipun sesepuh trah Ki Ageng Wonolelo ingkang satuhu luhuring budi, minangka wakilipun trah Ki Ageng Wonolelo keparengo munjuk matur mingkas purwaning atur mugyo sih rahmating Allah, tansah hamayugono brayat ageng Ki Ageng Wonolelo, sumrambah kawulo sajagad raya. Menggah wasing atur keparengo kulo nyuwun idi palilah dumateng sesepuh trah:
a)       Ingkang sepisan putra wayah badhe nyekar soho tahlil wonten ing sasana paleremanipun Ki Ageng Wonolelo.
b)       Ingkang kaping kalih niat badhe ngirapaken pusaka tilaranipun Eyang Ageng Wonolelo ingkang awujud: Al-Qur’an, kopyah, rasukan gondil, sempalan mustoko masjid (cupu), lan teken tumuju mring sasana palereman.  
 Mekaten ingkang dados atur kulo, keparengo hanyadong dhawuh.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesepuh trah:
Putraku lan wayahku kang tak tresnani kabeh aturmu tak tampa kang iki aku minangkani sesepuhing trah rumangsa bungah lan nyengkuyung marang rerancangane putro wayah kang bakal mulyakake leluhur yo Eyang Ageng Wonolelo, kabeh pusaka bakal tak pasrahake marang kowe, lan kinaryo sangu lakune kowe bakal tak kantheni:
a)       Hagni suci, kinaryo damaring laku tumuju papan palereman.
b)       Sekul wudhuk kang kinaryo dahar kembul bujono para ulama sak paripurnaning nindakake tahlil lan nyekar.
c)       Apem, kang samengko caosno marang sanak sedulur kang nderek tahlil.    
    Mulo enggal majua, tampanana lan tindakna ayahan suci iki.                                       
Pengageng:
Sendiko, ngestokaken dhawuh………(pengageng maju dan menerima api suci dan pembawa obor 5 orang menghidupkan obor diikuti pembawa obor lainnya).

Sesepuh:
Banyu mili pangestuku, sumandhing mring putro wayah.
         Pengageng:
            Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Yang ditirukan peserta kirab.
Kirab pusaka dari Masjid menuju makam Ki Ageng Wonolelo telah siap berangkat dengan diiringi gending. Urutan barisan kirab adalah sebagai berikut:
1.      Mobil Polisi Pariwisata
2.      Drum Band SMP N 1 Ngemplak
3.      Umbul-umbul
4.      Barisan pembawa obor suci
5.      Barisan pembawa Ting
6.      Barisan pembawa besek dan dupa ratus
7.      Andong yang di pakai oleh Ketua Dewan Pinisepuh Trah + Ibu dan Ketua Trah + Ibu.
8.      Pengageng dan pendamping.
9.      Putri Bayangkari
10.  Putri Domas yang memakai baju hijau-hijau dengan membawa bunga-bunga.
11.  Joli-joli yang berisi pusaka Ki Ageng Wonolelo dan sesaji
12.  Gunungan Apem yang dibawa oleh 4 orang yang memakai pakaian Jawa lengkap.
13.  Para alim ulama yang memakai pakaian jubah putih-putih.
14.  Para prajurit yang memakai pakaian prajurit dengan membawa tombak.
15.  Trah dan tamu undangan
16.  Pawang Jathilan yang membawa obor di kanan kiri barisan kirab. 
Sesampainya di komplek makam, iring-iringan kirab berjalan memasuki pendopo makam Ki Ageng Wonolelo kecuali barisan drum band. Di sini barisan disambut dengan diiringi shalawat. Sampai di pendopo makam diterima juru kunci. Pengageng kemudian melapor pada juru kunci. Pembicaraannya kurang lebihnya sebagai berikut:
        Pengageng:
Nuwun keparengo matur wonten ngarsanipun Ki juru kunci kulo ingkang hamakili trah Kyai Ageng Wonolelo menawi wonten keparenganipun badhe nyekar soho tahlil wonten papan paleremanipun Eyang Ageng Wonolelo.

         Juru kunci:
Menawi kersanipun mekaten keparengo kulo nyuwun bukti ingkang cetho lan gumathok.
         Pengageng:
Monggo kulo aturi mresani, ingkang wonten sak wingking keparengo badhe kulo waosaken menggah riwayatipun Eyang Ageng.

         Juru kunci:
            Sumonggo.
Kemudian pembawa joli-joli pusaka maju dan pusaka-pusaka ini selanjutnya diletakkan didekat makam Ki Ageng Wonolelo. Pusaka yang pertama dimasukkan ke dekat makam adalah: Al-Qur’an yang selanjutnya diikuti kopyah, Gondil, Cupu, dan teken. Setelah benda-benda pusaka diletakkan di dekat makam, dilanjutkan dengan tahlil dan Do’a bersama, diikuti dengan tabur bunga atau nyekar di makam Ki Ageng Wonolelo.
Tabur bunga dilakukan oleh semua kerabat Ki Ageng Wonolelo secara bergantian dilanjutkan oleh para peziarah. Setelah acara tabur bunga selesai gunungan apem ditaruh ditengah lapangan untuk diperebutkan dan sebagian ditaruh di panggung untuk disebar oleh para petugas yang telah ada diatas panggung. Para barisan kirab kembali ke Masjid Ki Ageng Wonolelo secara berurutan seperti barisan semula. 
  1. Maksud dan Tujuan Upacara
Budiono Herususanto mengatakan bahwa upacara yang merupakan kelakuan atau tindakan simbolis manusia sehubungan dengan kepercayaan atau keyakinan adalah mempunyai maksud dan tujuan untuk menghindarkan gangguan dari roh jahat. Dengan demikian maksud dan tujuan upacara adat yang diselenggarakan oleh suatu warga masyarakat tidak lain untuk menghindarkan atau menjauhkan dari gangguan roh jahat dan mendapatkan perlindungan dari roh atau arwahnya para leluhur, untuk itulah upacara adat selalu diselenggarakan.
Sehubungan dengan itu, maka maksud dan tujuan Upacara adat Saparan Wonolelo yang diselenggarakan oleh masyarakat Pondok Wonolelo itu antara lain:
1.      Untuk mengenang atau mengingat kembali leluhur mereka yang menurunkan mereka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Di samping itu juga untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam, khususnya di Pondok Wonolelo dan di daerah sekitarnya.[25]
2.      Untuk mengumpulkan anak keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam organisasi kekerabatan trah Ki Ageng Wonolelo yang tersebar di kawasan Yogyakarta.[26]  
3.      Untuk mohon perlindungan dan barokah Tuhan agar masyarakat Pondok Wonolelo dijauhkan dari segala macam gangguan gaib yang sekiranya mendatangkan petaka bagi masyarakat. Melalui upacara ini anak keturunan Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo dan di mana saja berada selalu diberi hidup tentram, bahagia, kesejahteraan dan keselamatan dalam lindungan kebesaranNya.[27]
4.      Mendukung Yogyakarta khususnya kabupaten Sleman sebagai Daerah Wisata Budaya, mengajak generasi muda untuk lebih menggali dan memahami tingginya nilai-nilai budaya dan seni daerah yang ada di indonesia.
5.      Memberikan wahana kesenian rakyat dan menumbuhkan rasa memiliki, menyayangi, memperhatikan serta melestarikan budaya Indonesia terutama oleh Bangsanya[28].
6.      Mengajak generasi muda untuk lebih menggali dan memahami tingginya nilai-nilai budaya dan seni daerah yang ada di Indonesia.
7.      Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi di dalam kegiatan saparan.
Maksud dan tujuan diadakan upacara ini memiliki harapan terutama dikalangan muda terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo agar dapat mewarisi nilai-nilai ajaran Ki Ageng Wonolelo yang besar dan luhur untuk menyebar agama Islam di Pondok Wonolelo dan sekitarnya.
  1. Nilai-nilai dalam Upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo
Dalam upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo ini terdapat nilai-nilai yang luhur yaitu nilai luhur ketauladanan dan nilai luhur kebersamaan.
Nilai luhur ketauladanan, dalam pelaksanaan upacara adat saparan ini memberikan gambaran dan wawasan mengenai perjuangan dari leluhur yang telah menurunkan mereka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Disamping itu juga mengenal Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam[29]. Nilai ketauladan disini yaitu nilai-nilai yang dimiliki Ki Ageng Wonolelo yang patut kita teladani. Karena Ki Ageng Wonolelo selalu berbuat baik sesuai dengan ajaran-ajaran Islam dan mempunyai budi pekerti yang luhur.
Nilai luhur kebersamaan dan kekerabatan, yaitu bahwa dalam pelaksanaan upacara adat dilakukan secara bersama-sama oleh trah Ki Ageng Wonolelo dan masyarakat Pondok Wonolelo[30]. Trah Ki Ageng Wonolelo berkoordinasi dengan penduduk Pondok Wonolelo, kemudian membentuk suatu kapanitiaan sehingga mereka dapat bekerja sama dalam melaksanakan upacara adat Saparan Wonolelo sehingga pelaksanaan upacara dapat berjalan dengan lancar. Itu terbukti pada awal upacara yang merupakan tahap persiapan upacara masyarakat secara bersama-sama bergotong royong melaksanakan kerja bakti membersihkan dan memperbaiki jalan-jalan dusun dan membuat pagar-pagar untuk tempat parkiran maupun membuat panggung-panggung untuk hiburan diarea pasar malem.
Kebersamaan juga nampak ketika sedang mempersiapkan perlengkapan sesaji. Mereka membuat sesaji secara bersama-sama, kemudian dalam mengaturnya banyak melibatkan warga masyarakat yang secara khusus mendapat tugas untuk mempersiapkannya.
Dalam pembuatan gunungan apem masyarakat Pondok Wonolelo dan trah Ki Ageng Wonolelo secara bersama-sama tiap keluarga secara sukarela mengirimkan apem kepada panitia saparan untuk selnjutnya oleh panitia saparan dibuat gunungan apem. Sebelum dibuat gunungan apem-apem tersebut dibungkus satu persatu agar nanti saat disebarkan jatuh ketanah tidak kotor.
Pelaksanaan Upacara Saparan Wonolelo melibatkan orang banyak, maka untuk mensukseskan pelaksanaan ini masyarakat Pondok Wonolelo membagi tugas masing-masing agar pelaksanaan Upacara Saparan Wonolelo dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Nilai kekerabatan pun tampak jelas, karena mereka dapat bekerja sama dengan baik antara warga masyarakat Pondok Wonolelo dan anggota trah Ki Ageng Wonolelo. Upacara ini juga sebagai ajang untuk mengumpulkan anak cucu keturunan Ki Ageng Wonolelo.

C. Konsep Mistik
   Pada umumnya mistik dapat dimengerti sebagai suatu pendekatan spiritual non diskursif kepada persekutuan jiwa dengan Tuhan atau apa saja yang dipandang sebagai Tuhan yang transenden, maka ciri khasnya adalah kebatinan, menjauhi dunia menuju persatuan dengan Yang Esa, yang transenden[31].         
Dalam kamus filsafat, disebutkan bahwa mistisisme memiliki pengertian secara bahasa Inggris mytycism, Yunani mycterion, dari mytes (orang yang mencari rahasia-rahasia tentang kenyataan), dan myien (menutup mata sendiri). Selanjutnya diberikan beberapa pengertian tentang mistik yang kesemuanya hampir searah, yaitu:
  1. Keyakinan bahwa kebenaran terakhir tentang kenyataan tidak dapat diperoleh melalui pengalaman biasa dan tidak melalui intelek (akal budi) namun melalui  pengalaman mistik atau intuisi mistik yang non rasional.
  2. pengalaman non rasional dan tidak biasa tentang realitas yang mencakup seluruh (sering tentang suatu realitas transenden) yang memungkinkan diri bersatu dengan realitas yang biasanya dianggap sebagai sumber atau dasar eksistensi semua hal.
  3. Mistisisme secara harfiah berarti pengalaman batin, yang tidak terlukiskan, khususnya yang mempunyai ciri religius dalam arti yang luas dimengerti sebagai kesatuan yang mendalam dengan Allah.
  4. Mistisme adalah bahwa Tuhan dikenal didalam bagian-bagian yang terdalam dari jiwa manusia secara eksperensial[32].
Sedangkan menurut Simuh dengan mengutip kamus Hornby mengatakan bahwa mistik adalah termasuk jenis kepercayaan atau ajaran dengan pengetahuan tentang hakikat atau tentang Tuhan bisa dicapai melalui meditasi (dzikir) atau tanggapan batin (pengalaman kejiwaan) dengan mematikan fungsi pikiran dan panca indra[33].
Sebagai bagian dari masyarakat timur, mistik merupakan hidup keseharian bagi orang Jawa yang sejak dahulu kala tumbuh subur. Suburnya kehidupan mistik ini selain dipengaruhi oleh karena tidak puasnya masyarakat Jawa terhadap sistem agama mereka yang berbntuk slametan[34], memberikan saji-sajian pada waktu tertentu dan ditempat-tempat tertentu, serta berziarah kemakam-makam, juga disebabkan oleh pola sosial masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat Jawa dituntut untuk tampil sempurna, dan memberi kesan yang baik di depan publik[35].
Konsep mistik dalam upacara saparan Ki Ageng Wonolelo ini merupakan manunggaling kawulo lan Gusti karena didalam upacara ini masyarakat ingin mendekatkan diri dengan Allah dengan cara berziarah dan berdzikir di makam Ki Ageng Wonolelo sehingga dengan cara ini mereka akan lebih dekat dengan Allah atau dengan kata lain mereka akan mendapatkan sifat zuhud terhadap dunia, yaitu meninggalkan kesenangan dunia yang bersifat sementara untuk berbakti kepada Allah.
Dalam upacara tradisi saparan ini juga terdapat sesaji-sesaji yang maksud dari sesaji itu adalah menggambarkan manunggaling kawulo lan Gusti yang menciptakan manusia alam dan seisinya. Disini juga memberikan pesan bahwa seharusnya manusia selalu ingat kepada Gusti yang memberikan hidup dan jasad seisinya untuk hidup manusia itu sendiri.  




                                                                                                                                               







 

 
   
   
   
   




[1] Wawancara dengan Bapak Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008.
[2] Wawancara dengan Bapak Tugiman  Pada tanggal 13 maret 2008. 
[3] Wawancara dengan Bapak Tugiman pada tanggal 13 Maret 2008. 
[4] Wawancara dengan Bapak  Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008.
[5] Proposal Kegiatan Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo pada tahun 2008. 
[6] Ripto Sunandarisman, Menelusuri Riwayat Serta Asal-Usul Ki Ageng Wonolelo, (Yogyakarta: 2006).
[7] Wawancara dengan Bapak Tugiman pada tanggal 13 Maret 2008.
[8] Wawancara dengan Bapak Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008.
[9] Ripto Sunandarisman, Menelusuri Riwayat Serta Asal Usul Ki Ageng Wonolelo, (Yogyakarta: 2006).
[10] Wawancara dengan Bapak Tugiman pada tanggal 13 Maret 2008.
[11] Wawancara dengan Bapak Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008.
[12] Wawancara dengan Bapak Gunoyo pada tanggal 13 Maret 2008.
[13] Wawancara dengan Bapak Sumardi pada tanggal 13 Maret 2008.
[14] Ripto Sunandarisman, Menelusuri Riwayat Serta  Asal-Usul Ki Ageng Wonolelo, (Yogyakarta: 2006). 
[15]Maria Tri Widayati, Pembaharuan (Media Komunikasi Sivitas Akademi Politeknik”API”), Edisi ke-23 (Yogyakarata: Politeknik “API”, 2006), hlm.18. 
[16]Ibid. hlm, 19. 
[17]James Danandjaja, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, Dan Lain-lain, (Jakarta: Pustaka Grafitipers, 1986).hlm. 50.  
[18] Wawancara dengan Bapak Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008. 
[19] Wawancara dengan Bapak Gunoyo pada tanggal 13 Maret 2008. 
[20] Wawancara dengan Bapak Tugiman pada tanggal 13 Maret 2008. 
[21] Tashadi, dkk, Kabupaten Sleman Dalam Perjalanan Sejarah, (Sleman: Bagian Hubungan Masyarakat, 2002). hlm.139.
[22] Wawancara dengan Bapak Tugiman pada tanggal 13 Maret 2008.
[23] Wawancara dengan Bapak Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008.
[24] Proposal Panitia Saparan Ki Ageng Wonolelo tahun 2008.
[25] Tashadi, dkk, Kabupaten Sleman Dalam Perjalanan Sejarah, (Sleman: Bagian Hubungan Masyarakat, 2002). hlm.139.
[26] Wawancara dengan Bapak Suroyo pada tanggal 30 Maret 2008.
[27] Ibid. hlm.139.
[28] Proposal Panitia Saparan Ki Ageng Wonolelo tahun 2008.
[29] www. Tourismsleman. Com. Diakses pada tanggal 27 februari 2008. 
[30] www. Tourismsleman. Com, diakses pada tanggal 27 februari 2008.
[31] Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 653.
[32] Ibid, hlm. 652-654
[33] Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 22.
[34] Koentjoro Ningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 399.  
[35] Niels Mulder, Mistisisme Jawa Ideologi Di Indonesia terj. Noor Cholis, (Yogyakarta: Lkis, 2001), hlm.77.

2 komentar:

  1. INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT


    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT


    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT

    BalasHapus
  2. saya sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih banyak kepada KI_MANGGALA atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan yaitu angka 4D ( 1442 ) alhamdulillah ternyata itu benar2 benar tembus KI dan berkat bantuan KI_MANGGALA saya bisa melunasi semua utang2 orang tua saya yang ada di BANK BRI, dan saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2.yang ingin merubah nasib seperti saya hubungi KI_MANGGALA di nomor :(_0853_3552_9777_) insah allah dijamin 100% tembus atau silahkan buktikan sendiri trima'kasih'thank'z room'x zobat.





    saya sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih banyak kepada KI_MANGGALA atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan yaitu angka 4D ( 1442 ) alhamdulillah ternyata itu benar2 benar tembus KI dan berkat bantuan KI_MANGGALA saya bisa melunasi semua utang2 orang tua saya yang ada di BANK BRI, dan saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2.yang ingin merubah nasib seperti saya hubungi KI_MANGGALA di nomor :(_0853_3552_9777_) insah allah dijamin 100% tembus atau silahkan buktikan sendiri trima'kasih'thank'z room'x zobat.






    saya sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih banyak kepada KI_MANGGALA atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan yaitu angka 4D ( 1442 ) alhamdulillah ternyata itu benar2 benar tembus KI dan berkat bantuan KI_MANGGALA saya bisa melunasi semua utang2 orang tua saya yang ada di BANK BRI, dan saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2.yang ingin merubah nasib seperti saya hubungi KI_MANGGALA di nomor :(_0853_3552_9777_) insah allah dijamin 100% tembus atau silahkan buktikan sendiri trima'kasih'thank'z room'x zobat.






    saya sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih banyak kepada KI_MANGGALA atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan yaitu angka 4D ( 1442 ) alhamdulillah ternyata itu benar2 benar tembus KI dan berkat bantuan KI_MANGGALA saya bisa melunasi semua utang2 orang tua saya yang ada di BANK BRI, dan saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2.yang ingin merubah nasib seperti saya hubungi KI_MANGGALA di nomor :(_0853_3552_9777_) insah allah dijamin 100% tembus atau silahkan buktikan sendiri trima'kasih'thank'z room'x zobat.

    BalasHapus